Prabu Geusan Ulun
Pada masa awal pemerintahan Prabu
Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya
karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam
rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran
hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum
meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu
Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk
mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut
menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua
dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat
bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang).
Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau
Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang
Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.
Walaupun pada waktu itu tempat
penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota
kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu
Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi
bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang
menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya
Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah
utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.
Secara politik Kerajaan Sumedang
Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan
tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu
Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan
Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada
masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak
kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram.
Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung
dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk
mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante).
Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir
ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu
penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua
sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.
Dengan sikap dan perilakunya yang
sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh
penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu
Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang
ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam
karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke
Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan
untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang
antaraCirebon dan Sumedang.
Akhirnya Sultan Agung dari
Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu
Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung
dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang
menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk
menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke
Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun memiliki tiga
orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang
kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari
ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak:
· Pangeran Rangga Gede, yang
merupakan cikal bakal bupati Sumedang
· Raden Aria Wiraraja, di
Lemahbeureum, Darmawangi
· Kiyai Kadu Rangga Gede
· Kiyai Rangga Patra Kalasa,
di Cundukkayu
· Raden Aria Rangga Pati, di
Haurkuning
· Raden Ngabehi Watang
· Nyi Mas Demang Cipaku
· Raden Ngabehi Martayuda,
di Ciawi
· Rd. Rangga Wiratama, di
Cibeureum
· Rd. Rangga Nitinagara, di
Pagaden dan Pamanukan
· Nyi Mas Rangga Pamade
· Nyi Mas Dipati Ukur, di
Bandung
· Rd. Suridiwangsa, putra
Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu
· Pangeran Tumenggung
Tegalkalong
· Rd. Kiyai Demang Cipaku,
di Dayeuh Luhur.
· Prabu Geusan Ulun
merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi
bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar