Pangeran Kornel 'si Manusia Sunda'
Pangeran Kornel ialah nama sebutan bagi Pangeran Kusumah Dinata, karena dalam peperangan menghadapi
Pangeran Dipanegara (1925‑1930), dia oleh Belanda diangkat sebagai kolonel
tituler. Istilah “kolonel” yang masih jarang pada masa itu, berubah menjadi
“kornel”. Nama “Pangeran Kornel”
itu sendiri lebih termashur daripada namanya yang sebenarnya.
Pada masa itu ada kebiasaan bahwa
yang diangkat sebagai pengganti bupati sesuatu daerah, haruslah keturunan
langsung daripada bupati yang sebelumnya, artinya harus keturunan bupati
setempat atau keluarga dekatnya.
Baru kalau dari antara keluarga
bupati setempat tidak ada yang layak diangkat sebagai pengganti, dicarilah
calon dari tempat lain yaitu yang sudah diketahui kecakapan dan kesetiaannya.
Dalam hal ini agaknya Tumenggung Tanubaya dianggap memenuhi syarat itu.
Walaupun dengan perasaan kurang
puas, namun keluarga menak Sumedang menerima pengangkatan itu karena memang
calon Sumedang yang berhak sendiri masih belum sampai umur. Tetapi ketika dua
tahun kemudian Tumenggung Tanubaya berhenti, ternyata yang diangkat bukanlah
Jamu yang ketika itu sudah dewasa, melainkan Tumenggung Patrakusumah menantu Tumenggung Tanubaya. Tindakan
pemerintah Belanda itu menimbulkan rasa tidak puas di kalangan keluarga menak
Sumedang, tetapi juga menimbulkan kecuripan di pihak TumenggungTatrakusumah sendiri.
Jamu melarikan diri ke
Malangbong, kemudian ke daerah Cianjur. Di Cianjur dia mendapat perlindungan
dan kepercayaan dari Raden Aria Adipati
Wiratanudatar yang ketika itu menjadi bupati (1776-1781). Bupati
Wiratanudatar yang pernah mengenal ayah Jamu, bersimpati kepada anak muda itu.
Diberinya pekerjaan di lingkungan kabupaten, dan ketika terbuka lowongan Kepala Cutak Cikalong Wetan, maka
ditempatkannya di sana. Jamu pun dinikahkan dengan salah seorang kerabatnya.
Ketika Jamu duduk sebagai Kepala
Cutak Cikalong Wetan itulah datang Ema
Surialaga, adik sepupunya, yang juga merasa kurang aman hidup di tempat
kelahirannya sendiri (Sumedang). Ema pun mendapat simpati bupati
Wiratanudatar.
Dia diangkat sebagai jurutulis kabupaten,
kemudian ketika ada lowongan, diangkat sebagai mantri kudang kopi di
Bogor, bahkan kemudian menjadi bupati Bogor, bupati Karawang dan bupati
Sukapura. Ema mengundurkan diri dari jabatan terakhir itu atas
permintaannya sendiri.
Ketika ada lowongan sebagai patih di Sumedang, maka Jamu pun
diangkat untuk menjabat kedudukan itu dengan pangkat Demang. Setelah beberapa lama memangku jabatan itu, maka
pada tahun 1791, dia pun diangkat sebagai bupati Sumedang dengan gelar Tumenggung Surianagara.
Sebagai bupati dia terkenal
bijaksana. Pada masa pemerintahannya kehidupan rakyat berkembang dengan baik
dan sejahtera. Dia pun terkenal sebagai bupati yang cakap serta jujur.
Kebijaksanaannya sebagai bupati
yang bersih dan keberhasilannya meningkatkan kehidupan rakyat Sumedang, dapat
dibuktikan antara lain dari berbagai kesaksian para pejabat Belanda pada waktu
itu. Salah seorang di antaranya ialah yang bernama Nicolaas Engelhard yang dalam kesempatan memeriksa perkebunan kopi
di seluruh Priangan, sempat singgah di Sumedang. Tentang daerah Sumedang dia
menulis, bahwa setelah diperintah oleh Tumenggung Surianagara, daerah itu
mencapai banyak kemajuan, bahkan dikatakannya: daerah yang asalnya hutan telah
menjelma menjadi surga. Dipujinya Tumenggung Surianagara sebagai bupati yang
jujur. Walaupun dia bukan seorang yang kaya, namun tidaklah ia melakukan
perbuatan tercela mengumpulkan kekayaan pribadi berdasarkan jabatan dan
kekuasaannya sebagai bupati. Dia disebut hidup sederhana dan sering meninjau
keadaan rakyatnya yang hidup di pedalaman.
Karena jasa-jasanya itulah maka
dia kemudian diangkat menjadi Pangeran dan namanya bertukar menjadi Pangeran Kusumah Dinata. Di samping
itu ia pun memperoleh pula medali emas dengan ukiran kata-kata: “Atas nama Sri Maharaja, medali ini diberikan
oleh Komisaris Jenderal kepada Pangeran Kusurnah Dinata, bupati Sumedang,
sebagai ganjaran atas keberanian dan kesetiaannya.”
Keberanian dan kesetiaan itu
diperlihatkannya pula tatkala ia bersama-sama dengan bupati-bupati Karawang,
Subang dan Cirebon memimpin pasukan yang membantu pasukan Kompeni untuk
memadamkan pemberontakan yang terjadi di Jatitujuh, yang dipimpin oleh Bagus
Rangin sekitar tahun 1806. Pemberontakan itu meletus karena rakyat daerah
Cirebon tidak tahan lagi hidup dalam pemerasan orang-orang Cina yang memperoleh
hak-hak istimewa karena telah menyewa desa-desa sebagai tanah partikelir; dan
juga karena penangkapan atas Raja Kanoman yang dicintai rakyat. Penangkapan itu
dilakukan Belanda dengan suatu muslihat, setelah kerusuhan-kerusuhan timbul di
seluruh wilayah Cirebon sejak tahun 1802, karena Belanda mengangkat Pangeran
Surantaka yang tidak populer sebagai pengganti Sultan Kanoman yang meninggal
dunia pada tahun 1798. Pangeran Surianagara atau Raja Kanoman yang lebih berhak
atas kedudukan sultan tersingkir dari istana bersama dengan dua orang
saudaranya yang lain, yaitu Pangeran Kabupaten dan. Pangeran Lautan. Ketiganya
segera mendapat simpati rakyat yang sudah lama tertekan dan merasa tidak puas,
dan berperan sebagai pemimpinnya. Pada tahun 1805 Belanda mengundang ketiganya
untuk berunding di Betawi. Tetapi ketika ketiganya tiba di sana, mereka
ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Pemberontakan Bagus Rangin merupakan
lanjutan dari perlawanan yang sebelumnya dipimpin oleh ketiga pangeran dari
Kanoman itu.
Pasukan Bagus Rangin yang
dikepung dari segala arah, dapat dikalahkan. Tetapi Belanda juga segera
mengembalikan Raja Kanoman dari pengasingan dan mengangkatnya sebagai sultan,
sedangkan orang-orang Cina tidak diperkenankan lagi tinggal di daerah
pedalaman.
Yang menarik di sini ialah karena menurut Pangeran Kusumah Dinata
sendiri, pemberontakan rakyat di daerah Cirebon yang merembet pula ke
perbatasan Sumedang itu, disebabkan karena terlalu kejamnya tindakan dan
kelakuan para penguasa kolonial sendiri. Di daerah Sumedang ada seorang
komisaris Belanda, Lawick van Pabst, yang menyiksa seorang cutak dari
Conggeang, sehingga cutak yang bernama Baen itu menggabungkan diri dengan para
pemberontak bersama. 77 orang pengikut.
Jalan raya Anyer-Banyuwangi, yang
menjelusuri Pulau Jawa dari Barat ke Timur, dibuat atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels
(1807-1811). Dari Bandung jalan itu menuju ke Cirebon dan Semarang
dengan melalui kabupaten Sumedang. Tetapi pekerjaan pembuatan jalan di suatu
tempat di wilayah kabupaten Sumedang itu sangat lambat, sehingga terjadilah
suatu. peristiwa yang kemudian menjadi termashur dan mengharumkan nama Pangeran
Kusumah Dinata sebagai bupati yang mencintai dan melindungi rakyatnya, karena
berani membela rakyatnya itu di hadapan Gubernur Jenderal Daendels yang
terkenal galak dan pernarah.
Pembuatan jalan raya itu, yang
disebut juga sebagai jalan pos, sebenarnya lebih bermotifkan kepentingan
militer. Daendels sebelum diangkat sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda,
aktif dalam militer dan politik di negerinya. Sebagai gubernurjenderal, dia
terkenal keras, baik terhadap kaum pribumi maupun terhadap bangsa Belanda
sendiri. Dia melakukan berbagai tindakan yang tegas terhadap para pejabat Kompeni
yang korup, tetapi terlebih dahulu menaikkan gaji yang sebelumnya memang
sangat, rendah. Dia pun memperluas praktek tanam paksa yang sangat
menguntungkan Kompeni. Ketika
ia menerima jabatan itu dari Gubernur
Jenderal AT Wiese (1805‑1808), tugas utamanya ialah untuk menjaga
kepentingan Belanda dari ancaman Inggris yang kekuasaannya makin besar di
daerah‑daerah pengaruh Belanda. Jumlah tentara Kompeni ditambahnya dengan
sukarelawan‑sukarelawan pribumi, lalu ia pun mendirikan pabrik senjata di
Surabaya, mendirikan sekolah perwira di Semarang, pabrik cor besi meriam di
Jakarta, dan lain-lain. Dalarn pembuatan jalan raya Anyer‑Banyuwangi itu
kekejamannya sangat terkenal. Dia tidak mempedulikan berapa banyak kurban
manusia yang jatuh. Yang penting baginya pekerjaan itu harus selesai sesuai
dengan keinginannya.
Untuk pembuatan jalan itu
dikerahkan tenaga pribumi melalui pejabat‑pejabat setempat. Maka orang‑orang
didatangkan dari daerah-daerah yang jauh, meninggalkan anak istri dan
pekerjaannya sehari‑hari.
Di sebelah barat kota Sumedang,
ada gunung batu cadas yang sangat keras. Di situ pembuatan. jalan sangat
lambat, karena orang‑orang bekerja hanya dengan tangan dan dengan alat‑alat
yang sangat sederhana, seperti linggis dan cangkul. Berbulan‑bulan sudah
dikerjakan, namun hasilnya hampir tidak ada. Maka ketika Gubernur Jenderal
Daendels sendiri hendak datang mengontrol pembuatan jalan itu, orang‑orang
sudah diliputi kecemasan, karena mereka sudah mendengar tentang kegalakan dan
kekejamannya. Daendels sebelum berangkat ke Hindia Belanda diangkat
sebagai nurschalk yang oleh lidah orang Jawa disesuaikan
dengan sifatnya yang galak lantas terkenal sebagai Mas Galak. Orang‑orang
sudah dapat membayangkan betapa akan murkanya Tuan Besar Mas Galak kalau
melihat bahwa pembuatan jalan di gunung cadas itu belum ada hasilnya. Tetapi
Bupati Kusumah Dinata tidak memperlihatkan rasa cemas. Tatkala Gubernur
Jenderal Daendels tiba, disambutnya dengan langkah tetap sedang tangan kanannya
erat memegang hulu keris yang sudah digilirkannya ke depan (biasanya keris
diselipkan di belakang, kecuali dalam perang). Tatkala Gubernur Jenderal
menyodorkan tangan untuk bersalaman, Pangeran Kusumah Dinata menyambutnya
dengan tangan kiri.
Tentu saja perbuatan itu
mengejutkan Daendels. Tidaklah biasa orang menyambut uluran tangan dengan
tangan kiri, apalagi kalau tangan kanannya memegang hulu keris. Karena melihat
kelakuan yang luar biasa itu, Gubernur Jenderal Daendels tidak segera menegur
soal keterlambatan pekerjaan membuat jalan. Menurut imajinasi pengarang Memed
Sastrahadiprawira, di antara kedua pembesar itu terjadi percakapan sebagai
berikut:
Daendels: “Bupati, apa maksud Tuan menerima uluran tangan kami dengan
tangan kiri?”
Pangeran Kusumah Dinata: “Kanjeng Tuan Besar, saya tidak dapat melaksanakan
tugas yang Tuan Besar berikan, karena perintah itu tak mungkin dilaksanakan.
Bukan maksud saya mengelakkan perintah, bukan pula karena tidak mempunyai
keinginan bekerja dengan sungguh‑sungguh melainkan ingin mendapat pertimbangan
bahwa pekerjaan yang saya hadapi sangatlah beratnya, jauh lebih berat
dibandingkan dengan yang dihadapi oleh yang lain. Namun karena saya tidak
melihat kemungkinan akan memperoleh pertimbangan demikian dari Kanjeng Tuan,
maka saya ingin memperlihatkan bahwa bupati Sumedang yang bernama Pangeran
Kusumah Dinata lebih suka mati berkalang tanah daripada harus melaksanakan
pekerjaan yang tidak sesuai dengan rasa keadilannya. Kalau terpaksa, saya lebih
suka disebut sebagai orang keras kepala daripada dituduh membunuh rakyat saya
sendiri yang tak berdosa.”
“Apa, yang menjadi keberatan Tuan, kalau kami boleh tahu?”
Maka Pangeran Kusumah Dinata pun menceritakan masalah yang dihadapinya.
Daerah itu jarang penghuninya, sehingga orang‑orang yang bekerja di situ
didatangkan dari daerah yang jauh, yang mengandung arti orang itu harus
meninggalkan anak istri atau,keluarganya, dan juga pekerjaannya sehari‑hari
yang menjadi sumber pengludupannya. Sedangkan alat‑alat yang dipergunakan
sangat sederhana pula.
Mendengar keterangan Bupati Kusumah Dinata, Gubernur Jenderal Daendels
pun menjadi maklum, bahwa keterlambatan pekerjaan di situ bukanlah karena
kesengajaan ataupun kelalaian. Dia memuji keberanian Pangeran Kusumah Dinata.
Kepada ajudannya dia memerintahkan agar ke situ dikirimkan pasukan zeni, untuk
menolong menghancurkan batu cadas yang tak mungkin dilinggis itu dengan
rnenggunakan dinamit.
Bagian jalan di gunung batu cadas itu, tempat Pangeran Kusumah Dinata
berhadapan dengan Gubernur Jenderal Daendels, sekarang terkenal dengan nama
“Cadas Pangeran” sebagai peringatan akan keberanian seorang pejabat dalam
membela rakyatnya. Walaupun jalan yang sekarang sesungguhnya bukanlah jalan
yang dibuat pada masa Pangeran Kusumah Dinata lagi (yang dikenal sebagai “jalan
heubeul” atau jalan lama yang letaknya di atas jalan yang sekarang
dipergunakan), namun nama “Cadas Pangeran” itu masih tetap melekat.
Peristiwa itu pun dapat pula,
dilihat sebagai pernyataan keberanian Pangeran Kusumah Dinata dalam
mengemukakan apa yang dianggapnya sebagai kebenaran. Kalau ia yakin akan
kebenaran itu, maka dia berani mengemukakannya di hadapan siapa pun juga,
meskipun untuk itu ia harus mempertaruhkan kedudukan dan keselamatan dirinya.
Kejadian yang berlangsung di
Istana Bogor pada tahun 1811, niscaya merupakan bukti akan sifatnya yang berani
mengemukakan keyakinannya sendiri, walaupun dia tahu bahwa hal itu mengandung
bahaya bagi dirinya pribadi.
Pada waktu itu Belanda, terpaksa
menyerahkan kedudukannya sebagai penguasa Jawa kepada Inggris, yang berlangsung
selama lima tahun (1811 ‑ 1816). Ketika Lord Minto sebagai Gubernur Jenderal
Inggris di India mengadakan kunjungan ke Jawa, di Istana Bogor diselenggarakan
resepsi yang dihadiri oleh para pejabat penting Eropa maupun priburni. Pangeran
Kusumah Dinata yang ketika itu usianya sudah lanjut, hadir juga dalam resepsi
itu. Tetapi berlainan dengan para pejabat pribumi lain yang tampak cerah,
memperlihatkan hati riang atas terjaclinya penggantian yang dipertuan, Pangeran
Kusumah Dinata kelihatan murung saja. Para bupati yang lain sudah banyak yang
mengucapkan janji setia dan pujian kepada yang dipertuan yang baru dan Pangeran
Kusumah Dinata sebagai salah seorang bupati yang terkemuka, akhirnya diminta
juga berbicara. Menurut pengarang Memed Sastrahadiprawira, inilah yang
diucapkan oleh Pangeran Kusumah Dinata pada waktu itu, “Di Sumedang, kalau ada
orang hendak meninggal dunia, ia memanggil anak‑anak dan cucu‑cucunya, untuk
menceritakan kebaikan nenek‑moyangnya secara turun‑temurun. Begitu juga saya
mendengar dari ayah saya almarhum, bahwa sudah lebih dari 200 tahun, nenek‑moyang
saya mengabdi kepada orang Belanda dan Kompeni yang sudah berbuat begitu baik
hati kepada nenek‑moyang saya. Karena itu saya mengucapkan beribu‑ribu terima
kasih atas kebaikan orang Belanda serta berharap, mudah‑mudahan kerajaan
Belanda akan terus selamat sejahtera!”
Ucapan itu menimbulkan kecemasan
karena setiap orang tahu bahwa pada waktu itu yang menjadi yang dipertuan ialah
Inggris yang telah mengalahkan Belanda. Memuji Belanda di depan musuh yang baru
saja menaklukkannya niscaya tidaklah bijaksana.Tetapi ternyata ucapan Pangeran
Kusumah Dinata itu mendapat pujian dari seorang perwira Inggris yang bernama
Gillepsie dan Lord Minto pun menyatakan penghargaan atau keberanian dan
kesetiaan Pangeran Kusumah Dinata terhadap Belanda. Dia berjanji akan
menyampaikan hal itu kepada pihak Belanda.
Tentu saja kepatuhan itu pun
mempunyai syarat. Ketika rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin, rakyat
tergugah dalam peristiwa pembuatan jalan Anyer‑Banyuwangi di Cadas Pangeran,
maka dengan mempertaruhkan kedudukan dan keselamatannya pribadi, dia dengan
berani menentang Gubernur Jenderal Daendels yang sudah kesohor galak. Penentangan
itu bukanlah tanda dari ketaksetiaan atau ketakpatuhan, melainkan karena dia
sebagai pejabat merasa bertanggung jawab atas keselamatan rakyat yang
dipimpinnya.
Pangeran Kusumah Dinata adalah
contoh yang hampir sempurna sebagai seorang pejabat pelaksana yang patuh,
bertanggung jawab dan jujur. Nilai‑nilai ini pula agaknya yang menyebabkan
Memed menulis biografinya karena nilai‑nilai itu pulalah yang digambarkannya
dalam tokoh Yogaswara dalam roman Mantri Jero yang ditulisnya
lebih dahulu.
Keterangan:
Seluruh postingan ini diambil
dari buku : Manusia Sunda, Sebuah
esai tentang tokoh-tokoh sastra dan sejarah, ‑‑ Cet. 1. ‑‑ Jakarta : Inti
Idayu Press, 1984. Oleh Ajip Rosidi, Halaman 108 – 115
di susun ulang berikut sedikit
suntingan oleh: R. Adam Firdaus (02 Agustus 2013).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar