AWAL MULA KABUPATEN SUMEDANG
Sumedang Larang mengalami masa
kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun
sekitar tahun 1578, dan dikenal
luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah
Selatan sampai dengan Samudera Hindia,
wilayah Utara sampai Laut Jawa,
wilayah Barat sampai dengan Cisadane,
dan wilayah Timur sampai dengan Kali Pamali.
Sumedang mempunyai ciri khas
sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun-alun sebagai pusat
yang dikelilingi Mesjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di
tengah alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang
dibangun pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan
dipersembahkan untuk Pangeran Aria Soeriaatmadja atas jasa-jasanya dalam
mengembangkan Kabupaten Sumedang. Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922 oleh Gubernur Jenderal Mr.
Dr. Dirk Fock Sampai
saat ini Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22
April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang. Lambang Kabupaten
Sumedang, Lingga, diciptakan oleh R. Maharmartanagara, putra seorang Bupati
Bandung Rd. Adipati Aria Martanegara, keturunan Sumedang. Lambang ini
diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.
Hal-hal yang terkandung pada logo Lingga:
1.
Perisai : Melambangkan jiwa ksatria utama,
percaya kepada diri sendiri
3.
Dasar Hijau : Melambangkan kesuburan
pertanian
4. Bentuk Setengah Bola dan Bentuk Setengah Kubus
Pada Lingga : Melambangkan bahwa manusia tidak ada yang sempurna
5.
Sinar Matahari : Melambangkan semangat
dalam mencapai kemajuan
6.
Warna Kuning Emas : Melambangkan keluhuran
budi dan kebesaran jiwa
7. Sinar yang ke 17 Angka : Melambangkan Angka
Sakti tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
8.
Delapan Bentuk Pada Lingga : Lambang Bulan
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
9. 19 Buah Batu Pada Lingga, 4 Buah Kaki Tembik dan
5 Buah Anak Tangga : Lambang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik
Indonesia Tahun 1945
10.
Tulisan Insun Medal : Tulisan Insun Medal
erat kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung arti:
· Berdasarkan Prabu Tajimalela, seorang tokoh legendaris
dalam sejarah Sumedang, Insun Medal berarti (Insun : Aku,Medal :
Keluar).
· Berdasarkan data di Museum Prabu Geusan Ulun;
Insun berarti (Insun: Daya, Madangan: Terang) Kedua
pengertian ini bersifat mistik.
·
Berdasarkan keterangan Prof. Anwas Adiwilaga,
Insun Medal berasal dari kata Su dan Medang
(Su: bagus dan Medang: sejenis
kayu yang bagus pada Jati, yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang dulu), dan
pengertian ini bersifat etimologi.
Menurut Bujangga Manik, di dekat
Gunung Tampomas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon
dalam masa pemerintahan Surawisesa.
Dalam Kropak 410 disbutkab,
Pendiri Kerajaan Sumedang Larang tak lain adalah Prabu Resi Tajimalela. Ia
berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Himbar Buana.
Masih belum jelas pula
asal-usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tajimalela adalah
nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh
Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).
Sumber lain menjelaskan, baik
Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi
lisan yang masih hidup, disebutkan bahwa Prabu Tajimalela adalah putra Prabu
Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan
Sri Baduga Maharaja. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar
pinggiran Sungai Cimanuk.
Prabu Tajimalela masih memiliki
sejumlah nama, antara lain: Prabu Resi Agung Cakrabuana, Batara Tuntang Buana,
dan Aji Putih. Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam
tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: "Ari putrana Sang
Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih."
Kehadiran Prabu Guru Haji Putih
melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis
sejak abad ke-8 oleh Sanghyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di
sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan
dan kemasyarakatan hingga berdirilah Kerajaan Tembong Agung yang merupakan
cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan Tembong Agung tersebut, menurut
riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.
Prabu Guru Haji Putih berputra
Prabu Resi Tajimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Kropak 410
Tajimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340-1350) penguasa di Kawali dan
tokoh Suryadewata, ayahanda Batara Gunung Bitung di Majalengka.
Memang belum diperoleh keterangan
sumber yang menyebut-nyebut siapa gerangan istri Sang Prabu Resi Tajimalela.
Namun demikian, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Prabu
Resi Tajimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.
Tahta kerajaan Sumedang Larang
dari Prabu Tajimalela dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih
dikenal dengan sebutan Gajah Agung yang berkedudukan di Cicanting.
Kisah awal raja ini memang mirip
dengan kisah awal Kerajaan Mataram. Menurut versi Babat Tanah Jawi, antara Ki
Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Sela memetik dan menyimpan buah
kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudian meminumnya.
Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.
Demikian pula dalam naskah Layang
Darmaraja, yang mengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan
tahta kepemimpinan dari Prabu Resi Tajimalela.
Dikisahkan, pada suatu ketika
Prabu Tajimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Agung dan Gajah Agung.
Prabu Tajimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang
putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.
"Adinda, adindalah
kiranya yang lebih tepat menjadi raja," ujar Lembu Agung kepada adiknya.
"Kakanda, sungguh tidak pantas adinda yang masih muda usia, bila harus
menjadi raja. Kakandalah yang lebih tepat," jawab Gajah Agung.
Setelah di antara kedua putranya, masing-masing saling menunjuk siapa di antara
mereka yang pantas menjadi raja, akhirnya Prabu Resi Tajimalela memetik buah
kelapa muda lalu disimpannya kelapa tadi serta sebilah pedang.
Mereka berdua disuruh
menungguinya. "Adinda, tolong jaga kelapa ini. Kakanda hendak
pergi ke jamban dulu," kata Lembu Agung seraya pergi meninggalkan
Gajah Agung. Tiba-tiba sepeninggal Lembu Agung, Gajah Agung merasakan haus yang
bukan kepalang.
Apa boleh buat, untuk
menghilangkan dahaganya, Prabu Gajah Agung kemudian mengupas kelapa itu dan
diminumlah airnya. Karenanya, ketika Lembu Agung kembali lagi, Gajah Agung
langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Lembu Agung karena rasa
bersalahnya telah meminum air kelapa yang semestinya dijaganya.
Singkat cerita, jadilah Prabu
Gajah Agung meneruskan kepemimpinan Prabu Tajimalela, yang kemudian ia
meninggalkan tempat menuju daerah di pinggiran Kali Cipeles untuk mendirikan
kerajaan yang sekarang disebut Ciguling.
Kemudian ia bergelar Prabu
Pagulingan. Sementara kepemimpinan Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh
putranya , Wirajaya, yang lebih dikenal Sunan Pagulingan. Dalam Rintisan
Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Sunan Pagulingan berkedudukan di
Cipameungpeuk.
Namun ada pula yang mengisahkan,
kedudukan Kerajaan Sumedang Larang pada saat itu berada di Ciguling, Kelurahan
Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan. Yang jelas, ketiga raja Sumedang
Larang yang pertama ini masing-masing berkedudukan di tempat yang berbeda-beda.
Ini merupakan suatu gejala, bahwa kerajaan tersebut belum permanen yang dapat
ditinggali turun temurun oleh para penerus pemegang kekuasaannya. Keadaan
tersebut berlangsung sampai beberapa generasi berikutnya.
Putri Sulung Pagulingan bernama
Ratu Ratnasih alias Nyi Mas Rajamantri diperistri Sri Baduga Maharaja. Karena
itu, adiknya bernama Martalaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa
Sumedang yang keempat dengan gelar Sunan Guling.
Antara Ibu dan anak ini mempunyai
gelar yang sama, yaitu Patuakan.
Ratu Shintawati berjodoh dengan
Sunan Corenda, raja Talaga putra Ratu Simbar Kencana dari Kusumalaya putra Dewa
Niskala. Dengan demikian, ia menjadi cucu menantu penguasa Galuh.
Sunan Corenda mempunyai dua
permaisuri, yakni Mayangsari putri Langlangbuana dari Kuningandan, Shintawati
dari Sumedang. Dari Mayangsari, Sunan Corenda memperoleh putri Bernama Ratu
Wulansari alias Ratu Parung.
Berjodoh dengan Rangga Mantri
alias Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Talaga), putra Munding Surya Ageung.
Tokoh ini putra Sri Baduga. Sunan Parung Gangsa ditaklukkan oleh Cirebon tahun
1530 dan masuk Islam.
Dari Shintawati putri sulung
Sunan Guling, Sunan Corenda mempunyai putri bernama Setyasih, yang kemudian
menjadi penguasa Sumedang dengan gelar Ratu Pucuk Umun. Ratu Pucuk Umun Menikah
dengan Ki Gedeng Sumedang yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Santri.
Pangeran ini adalah putra Pangeran Palakaran dari puteri Sindangkasih. Pangeran
Palakaran putra Maulana Abdurrahman alias Pangeran Panjunan.
Dengan perkawinan antara Ratu
Setyasih dan Ki Gedeng Sumedang inilah agama Islam mulai menyebar di Sumedang
pada tahun 1529.
Pangeran Santri dinobatkan
sebagai penguasa Sumedang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452
Saka, atau kira-kira 21 Oktober 1530 M, tiga bulan setelah penobatan Pangeran
Santri.
Pada tanggal 12 bagian terang bulan
Margasira tahun 1452 di Keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan
"syukuran" untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan
sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri.
Hal ini menunjukkan, bahwa
Sumedang Larang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Cirebon. Pangeran Santri
adalah murid Susuhunan Jati. Pangeran Santri sebagai penguasa Sumedang pertama
yang menganut Islam. Ia pula yang membangun Kutamaya sebagai Ibukota baru untuk
pemerintahannya.
Dari perkawinannya dengan Ratu
Pucuk Umun alias Ratu Inten Dewata, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran
Kusumahdinata-I ini dikaruniai enam orang anak, yaitu Pangeran Angkawijaya
(Prabu Geusan Ulun), Kiyai Rangga Haji, Kiyai Demang Watang Walakung, Santowaan
Wirakusumah, yang melahirkan keturunan anak-cucu di Pagaden Subang, Santowaan
Cikeruh dan Santowaan Awiluar.
Pangeran Santri wafat 2 Oktober
1579. Di antara putra-putri Pangeran Santri dari Ratu Inten Dewata (Pucuk Umun),
yang melanjutkan pemerintahan di Sumedang Larang ialah Pangeran Angkawijaya
bergelar Prabu Geusan Ulun. Menurut Babad, daerah kekuasaan Geusan Ulun
dibatasi kali Cipamali di sebelah Timur, Cisadane di sebelah Barat, sedangkan
di sebelah Selatan dan Utara dibatasi laut.
Daerah kekuasaan Geusan Ulun
dapat disimak dari isi surat Rangga Gempol-III yang dikirimkan kepada Gubernur
Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat ini dibuat hari Senin, 2 Rabi'ul Awal tahun
Je atau 4 Desember 1690, yang dimuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal
31 Januari 1691.
Dalam surat tadi, Rangga Gempol-III
(Pangeran Panembahan Kusumahdinata-VI) menuntut agar kekuasannya dipulihkan
kembali seperti kekuasaan buyutnya, yaitu Geusan Ulun. Rangga Gempol-III
mengungkapkan bahwa kekuasaan Geusan Ulun meliputi 44 penguasa daerah Parahyangan yang
terdiri dari 22 kandaga lante dan 18 umbul.
Ke-44 daerah di bawah kekuasaan
Geusan Ulun meliputi:
I. Di Kabupaten Bandung
1.
Timbanganten
2.
Batulayang
3.
Kahuripan
4.
Tarogong
5.
Curugagung
6.
Ukur
7.
Marunjung
8.
Daerah Ngabei Astramanggala
II. Di Kabupaten Parakanmuncang
1.
Selacau
2.
Daerah Ngabei Cucuk
3.
Manabaya
4.
Kadungora
5.
Kandangwesi (Bungbulang)
6.
Galunggung (Singaparna)
7.
Sindangkasih
8.
Cihaur
9.
Taraju
III. Di Kabupaten Sukapura
1.
Karang
2.
Parung
3.
Panembong
4.
Batuwangi
5.
Saung Watang (Mangunreja)
6.
Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju
7.
Suci
8.
Cipiniha
9.
Mandala
10.
Nagara (Pameungpeuk)
11.
Cidamar
12.
Parakan Tiga
13.
Muara
14.
Cisalak
15.
Sukakerta
Berdasarkan data yang dikirimkan
Rangga Gempol-III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi
Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Batas di sebelah Timur adalah Garis
Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
Di sebelah Barat garis Citarum -
Cisokan. Batas di sebelah Selatan laut. Namun di sebelah Utara diperkirakan
tidak meliputi wilayah yang telah dikuasai oleh Cirebon.
Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun
(1579-1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan
Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.
Sebelum Prabu Siliwangi
meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandaga lante untuk menyerahkan Mahkota
serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yang pada dasarnya Kerajaan
Sumedang Larang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus
menjadi penerus Pajajaran.
Dalam Pustaka Kertabhumi I/2
yang berbunyi: "Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus
pralaya, ya ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang
haneng Kutamaya ri Sumedangmandala" (Geusan Ulun memerintah wilayah
Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja
Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang), selanjutnya
diberitakan "Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sira
Pangeran Ghesan Ulun" (Para penguasa lain di Parahiyangan merestui
Pangeran Geusan Ulun).
Keempat orang bersaudara,
senapati dan pembesar Pajajaran yang diutus ke Sumedang tersebut, yaitu
Jayaperkosa (Sanghyang Hawu); Wirajaya (Nangganan); Kondang Hapa; dan Pancar
Buana (Embah Terong Peot).
Dalam Pustaka Kertabhumi I/2
menceritakan keempat bersaudara itu: "Sira paniwi dening Prabu Ghesan
Ulun, Rikung sira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabhun mwang
salwirnya" (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka
membina bala tentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lain), sehingga
peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Nalendra penerus Kerajaan Sunda
Pajajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9 mendapat restu dari 44 penguasa daerah
Parahyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam
Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul
dengan cacah sebanyak + 9000 umpi, untuk menjadi Nalendra baru pengganti
penguasa Pajajaran yang telah sirna. Pemberian
pusaka Pajajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai Hari
Jadi Kabupaten Sumedang.
Jayaperkosa adalah bekas senapati
Pajajaran, sedangkan Batara Wiradijaya sesuai julukannya bekas Nangganan.
Menurut Kropak 630, jabatan Nangganan lebih tinggi setingkat dari menteri,
namun setingkat lebih rendah dari Mangkubumi.
Di samping itu, menurut tradisi
hari pasaran Legi (Manis), merupakan saat baik untuk memulainya suatu upaya
besar dan sangat penting. Peristiwa itu dianggap sangat penting karena
pengukuhan Geusan Ulun "nyakrawartti" atau Nalendra merupakan semacam
proklamasi kebebasan Sumedang yang mensejajarkan diri dengan Kerajaan Banten
dan Cirebon. Arti penting lain yang terkandung dalam peristiwa itu adalah
pernyataan bahwa Sumedang Larang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari
kekuasaan Kerajaan Pajajaran, di Bumi Parahyangan.
Mahkota dan beberapa atribut
kerajaan yang dibawa oleh senapati Jayaperkosa dan diserahkan kepada Prabu
Geusan Ulun merupakan bukti legalisasi kebesaran Sumedang Larang, sama
halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak, Pajang, dan
Mataram.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah
baik yang tertulis maupun babad/cerita rakyat, maka penetapan Hari Jadi
Sumedang ditetapkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sejarah.
Serangan laskar gabungan Banten,
Pakungwati, Demak, dan Angke pada abad XVI ke Pajajaran, merupakan peristiwa
yang membuat Kerajaan Pajajaran Runtag (runtuh).
Berakhirnya Pajajaran pada waktu
itu, tidak menyeret Sumedang Larang dibawah kepemimpinan Pangeran Santri ikut
runtuh pula. Soalnya, sebagian rakyat Sumedang Larang pada itu sudah memeluk
Agama Islam. Justru dengan berakhirnya masa kekuasaan Pajajaran, Sumedang
Larang kian berkembang.
Penetapan Hari Jadi Kabupaten
Sumedang erat kaitannya dengan peristiwa di atas. Terdapat tiga sumber sejarah
yang dijadikan pegangan dalam menentukan Hari Jadi Kabupaten Sumedang:
Pertama : Kitab Waruga Jagat,
yang disusun Mas Ngabehi Perana tahun 1117 H. Kendati tak begitu lengkap
isinya, namun sangat membantu dalam upaya mencari tanggal tepat untuk dijadikan
pegangan/penentuan Hari Jadi Sumedang."Pajajaran Merad Kang Merad Ing
Dina Selasa Ping 14 Wulan Syafar Tahun Jim Akhir," artinya:
Kerajaan Pajajaran runtuh pada 14 Syafar tahun Jim Akhir.
Kedua : Buku Rucatan Sejarah
yang disusun Dr. R. Asikin Widjayakusumah yang menyertakan antara lain: Pangeran
Geusan Ulun Jumeneng Nalendra (harita teu kabawa kasasaha) di Sumedang Larang
sabada burak Pajajaran. Artinya, Pangeran Geusan Ulun menjadi raja
yang berdaulat di Sumedang Larang setelah Kerajaan Pajajaran berakhir.
Tiga : Dibuat Prof. Dr.
Husein Djajadiningrat berjudul : Critise Beshuocing van de Sejarah
Banten. Desertasi ini antara lain menyebutkan serangan tentara Islam
ke Ibukota Pajajaran terjadi pada tahun 1579, tepatnya Ahad 1 Muharam tahun
Alif.
Mengacu pada ketiga sumber
sejarah tadi, maka dalam diskusi untuk menentukan Hari Jadi Sumedang yang
dihadiri para sejarawan masing-masing Drs. Said Raksakusumah; Drs. Amir
Sutaarga; Drs. Saleh Dana Sasmita; Dr. Atja dan Drs. A Gurfani, berhasil
menyimpulkan bahwa 14 Syafar Tahun Jim Akhir itu jatuh pada tahun 1578 Masehi,
bukan tahun 1579, tepatnya 22 April 1578.
Atas dasar itu DPRD Daerah
Tingkat-II Sumedang waktu itu, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973,
Tanggal 8 Oktober 1973, menetapkan tanggal 22 April 1578 sebagai Hari Jadi
Kabupaten Sumedang.
Bupati Sumedang dari Masa ke
Masa, berikut adalah nama-nama bupati
Sumedang:
1.
Saryasih / Ratu Inten Dewata Pucuk Umun : 1539 –
1578
(yang kemudian
digantikan oleh suaminya, Pangeran Kusumadinata–I / Pangerang Santri)
2.
Pangeran Koesoemahdinata-II (Pangeran Geusan
Ulun) : 1578-1601
3.
Pangeran Koesoemahdinata-III (Pangeran Rangga
Gempol-I) : 1601-1625
4.
Pangeran Koesoemahdinata-IV (Pangeran Rangga
Gede) : 1625-1633
5.
Raden Bagus Weruh (Pangeran Koesoemahdinata-V/Pangeran
Rangga Gempol-II) : 1633-1656
6.
Pangeran Koesoemahdinata-VI (Pangeran Panembahan/Pangeran
Rangga Gempol-III) : 1656-1706
7.
Dalem Adipati Tanoemadja : 1706-1709
8.
Raden Tumenggung Koesoemahdinata-VII (Pangeran
Rangga Gempol-IV/Pangeran Karuhun) : 1709- 1744
9.
Dalem Istri Radjaningrat : 1744-1759
10.
Dalem Adipati Koesoemahdinata-VIII (Dalem
Anom) : 1759-1761
11.
Dalem Adipati Soerianagara-II : 1761-1765
12.
Dalem Adipati Soerialaga : 1765-1773
13.
Dalem Adipati Partakoesoemah (Tusschen Bestur Parakanmuncang) :
1773-1789
14.
Dalem Aria Satjapati-III : 1789-1791
15.
Raden Tumenggung Soerianagara (Pangeran
Koesoemahdinata-IX/Pangeran Kornel) : 1791-1828
16.
Dalem Adipati Koesoemahjoeda (Dalem
Ageung) : 1828-1833
17.
Dalem Adipati Koesoemahdinata (Dalem
Alit) : 1833-1834
18.
Raden Tumenggung Soeriadilaga : 1834-1836
19.
Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran
Sugih) : 1836-1882
20.
Pangeran Aria Soeriaatmadja (Pangeran
Mekkah) : 1882-1919
21.
Adipati Aria Koesoemadilaga : 1919-1937
22.
Tumenggung Aria Soeria Koesoema Adinata :
1937-1946
23.
Tumenggung Hasan Satjakoesoemah : 1946-1947
24.
Tumenggung Mohamad Singer : 1947-1949
25.
Tumenggung Hasan Satjakoesoemah : 1949-1950
26.
Raden Abdoerachman Kartadipoera : 1951-1958
27.
Sulaeman Soemitakoesoemah : 1951-1958
28.
Antam Sastradipura (Kepala Daerah) dan R. Enoh
Soeriadikoesoemah (Pj. Bupati) : 1958-1960
29.
Mohamad Chafil : 1960-1966
30.
Adang Kartaman : 1966-1970
31.
Drs. Supian Iskandar (Pj. Bupati) : 1970-1972
32.
Drs. Supian Iskandar : 1972-1977
33.
Drs. Soeyoed (Pj. Bupati) : 1977-1978
34.
Drs. H. Kustandi Abdoerachman : 1978-1983
35.
Drs. H. Sutardja : 1983-1993
36.
Drs. H. Moch Husein Jachjasaputra :
1993-1998
37.
Drs. H. Misbach : 1998-2003
39.
Drs. H. Endang Sukandar, M.Si : 2013 –
sekarang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar